Penulis : Aulya Elyasa
Penerbit :
Copernican Kelompok Jagad Media, Yogyakarta
Cetakan :
1, Mei 2008
Tebal
Buku :
x + 290 halaman; 13 x 20,5 cm
Penyunting :
Faiz Ahsoul
Desain
Grafis : Catur Ary
Penata
Aksara : Agnes Chintami
Penyelaras :
Alfoe Niam Alwie
Enthirea: Pertempuran Dua Dunia
merupakan sebuah buku fiksi fantasi yang ditulis oleh Aulya Elyasa. Enthirea
merupakan dunia dimana keajaiban adalah kenyataan. Dunia dimana sihir berkuasa
dan impian menjadi nyata. Tempat tinggal manusia dan segala keajaiban sihir.
Elyaz, demikian sang tokoh utama. Seorang
pemuda miskin dari kota Faerun yang bekerja sebagai penebang kayu. Pada awal
berpetualang, usianya tak lebih dari 24 tahun. Ia tinggal bersama pamannya
Harvath yang buta. Ayahnya telah meninggal dalam pertempuran Harla, dan ibunya
meninggal saat usianya beranjak 10 tahun. Perjalanan hidupnya ditakdirkan oleh
Vauri, raja dari para dewa sebagai pelindung.
Awal cerita, dahulu kala terjadi peperangan
besar di Enthirea ketika Orgath
salah satu putra Vauri, Raja
para Dewa, mencoba membunuh ayahnya dengan menghancurkan semua ciptaan dewa di
Enthirea. Untuk melawan Orgath, Vauri memberikan medali yang menyimpan kekuatan
dewa kepada orang yang terpilih sebagai pelindung Enthirea. Orgath berhasil
dijatuhkan dan dipenjarakan. Kedamaian pun datang ke Enthirea, tetapi para
pelindung dan medalinya seketika juga ikut menghilang.
Seribu tahun setelahnya, Elyaz seorang pemuda
penebang kayu miskin yang tinggal di kota Faerun di tepi hutan Ereantera datang
ke sebuah kota Elf yang berada jauh didalam hutan, bernama Eslunia. Di sana ia
bertemu Elf pria bernama Lefial dan Elf wanita bernama Arvea, yang merupakan
putri dari Isfar, pemimpin Elf Eslunia. Di sana ia mengetahui kenyataan tentang
perang besar masa lampau dan fakta mengejutkan bahwa medali yang diwarisikan
dari ayahnya adalah salah satu medali sang pelindung, medali Gretiani. Elyaz pun mengetahui takdirnya
sebagai pelindung bangsa Enthirea.
Sebagai pelindung, Elyaz dilatih cara
bertarung dan ilmu sihir oleh Lefial, Elf yang pertama kali ia temui saat
sampai di Eslunia. Dan ternyata Lefial adalah Jendral perang Eslunia. Awalnya
hubungan mereka tidak baik, tetapi seiring waktu mereka menjadi sahabat. Elyaz
juga menaruh hati Arvea, yang selalu bersikap baik dan perhatian padanya.
Sampai tiba hari dimana Isfar meminta Elyaz, Arvea, dan Lefial membantu kota
Faerun yang menjadi tujuan pertama kota yang akan dihancurkan pasukan kegelapan
Orgath. Sayangnya Faerun hancur oleh kekuatan pasukan Orgath, dan demi
menyelamatkan Arvea dan Elyaz, Lefial rela mengorbankan nyawanya.
Setelah kembali ke Eslunia, membuat strategi
dengan semua bangsa di Enthirea, Elyaz bersiap menghadapi pasukan kegelapan.
Takdir mempertemukannya dengan 3 pelindung lainnya, yaitu Zatra, Elf hitam yang
juga ditunjuk oleh Vauri sebagai pelindung. Penyihir Druid yang tersisa, Asynia
merupakan pelindung dari wilayah selatan. Dan pemuda bernama Alator, sang pelindung
yang bisa mengubah dirinya menjadi binatang buas. Tetapi Elyaz masih tidak
yakin sebab seharusnya ada delapan
pelindung, tetapi hanya ada empat pelindung. Namun dengan keyakinan yang sangat
besar, mereka yakin bisa mengalahkan pasukan kegelapan dengan bantuan bangsa
Enthirea.
Demikian Aulya Elyasa menggambarkan berbagai
macam watak dan penokohan dalam cerita ini. Ia menggambarkan tokoh Elyaz
sebagai pemuda yang baik, berjiwa kesatria, dan pemberani. Isfar sebagai
pemimpin kota Eslunia adalah seorang yang bijaksana. Arvea adalah putri dari
Isfar yang sangat cantik dan baik hati. Zatra, seorang pemuda dari Svaltaria
yang juga merupakan seorang pelindung. Asynia, merupakan keturunan Druid yang
tersisa, ia juga seorang pelindung. Alator, merupakan pelindung yang bisa
mengubah diri menjadi binatang buas. Mereka semua mewakili sisi baik dunia, dan
sebaliknya ada Orgath, pemimpin dari Elf Hitam yang sangat jahat dan ingin
sekali menguasai Enthirea. Sementara para tokoh lainnya dengan berbagai
karakter melengkapi sisi baik dan sisi buruk dunia.
Sebagai buku fiksi fantasi, buku ini memang
cukup tebal. Namun membaca halaman demi halaman, bab demi bab, membuat kita
tidak akan rela meninggalkannya hingga tamat, bahkan demi menanti kelanjutan
buku seri yang ke dua. Sebab, tiap bab menyajikan kejutan dan ketegangan yang
berbeda-beda. Pada bagian awal buku, terdapat gambar-gambar dari setiap tokoh
yang ada dalam cerita. Dan buku ini seolah-olah bisa membuat kita merasa ada
didalam cerita. Banyak plot/alur yang sederhana tetapi sangat menarik untuk tidak
dilewatkan, karakternya juga sangat bagus. Tentang petualangan, perjuangan,
pengorbanan, dan percintaan semua dimuat
sangat menarik sehingga membuat penasaran si pembaca.
Kelemahan dari buku ini adalah penceritaan
dari setiap kejadian yang sangat cepat dan dialog yang kurang menggambarkan
karakter dari si tokoh.
duwe bukune mban?
BalasHapusnduwe lah
BalasHapus