Minggu, 20 Januari 2013

Survival



A.   Mengapa Ada Survival:
Kebutuhan akan survival tumbuh karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapinya. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain adalah:
1.    Keadaan alam (cuaca, kondisi medan)
2.    Kedaan makhluk hidup lain disekitar kita (binatang, tumbuh-tumbuhan)
3.    Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kondisi kesehatan)

B.   Definisi Survival:
Orang banyak mendefinisikan survival. Diantara devinisi tersebut terkandung didalam singkatan 8 hurufnya, yaitu:
S = Sadar dalam keadaan gawat darurat
U = Usahakan untuk tetap tenang
R = Rasa takut dan putus asa hilangkan
V = Vitalitas tingkatkan
I  = Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya
V = Variasi alam bias dimanfaatkan
A = Asal mengerti, berlatih, dan tahu caranya
L = Lancar, slaman, slumun, slamet
Di kemiliteran khususnya komando, Survival singkatan dari:
S = Sadarlah sungguh-sungguh situasimu
U = Untung malang bergantung pada ketenanganmu
R = Rasa takut dan panic harus dikuasai
V = Vakum isilah segera
I = Ingatlah dimana kau berada
V = Viva (hidup) hargailah dia
A = Adat istiadat setempat harus ditiru
L = Latihlah dirimu dan belajarlah selalu
Dalam versi lain:
S = Size up the situation (Pandailah menilai sesuatu)
U = Undue haste make jaste (Jangan tergesa-gesa biar lambat asal selamat)
R = Remember where you are (Ingatlah dimana kau berada)
V = Vanguish fear and panic (Kuasai dirimu dari rasa takut dan panik)
I = Improvise (Perbaikilah dirimu dari kesulitan)
V = Value living (Hargailah kehidupanmu)
A = Act like the natives (Adat istiadat setempat harus ditiru)
L = Learn basic skill (pelajarilah dasar keahlian dengan seksama)
            Dengan demikian dapat disimpulkan, SURVIVAL adalah kelangsungan hidup seseorang dimana orang tersebut tidak akan mendapat atau menerima fasilitas/ pelayanan yang sempurna atau secara teratur karena adanya pengaruh-pengaruh dan masalah yang timbul pada waktu itu.

C.   Versi Survival:
1.    Versi Militer
Banyak dilakukan oleh pasukan komando, pasukan pengintai, mata-mata perang, dan sebagainya. Dalam versi ini lebih dikenal sebagai survival tempura tau “ combat survival “. Bagi versi ini bertahan di alam saja tidak cukup, karena masih ada factor lain yaitu ancaman musuh. Oleh karenanya dikenal adanya S E R E (Survival – Evasion/ pengelakan – resistance/ bertahan – Escape/ melarikan diri). Secara kusus combat survival punya arti kemampuan untuk mempertahankan kehidupan dalam keadaan serba sukar untuk kembali ke daerah sendiri tanpa menberikan sesuatu pertolongan pada musuh.
2.    Versi petugas kusus
Termasuk disini adalah pilot pesawat komersial, awak nahkoda kapal laut komersial, petugas kehutanan, dan lain sebagainya. Salah satu cirri versi ini diantaranya harus bertanggung jawab terhadap orang lain. Mereka bertanggung jawab dan berperan untuk berusaha member bantuan atau menyelamatkan korban/penumpang sebanyak mungkin.
3.    Versi Avonturir
Termasuk disini pendaki gunung, penjelajah rimba, pemburu, peneliti dan lain sebagainya. Penguasaan survival di tekankan pada kemahiran individu, tetapi kadang mereka terikat pada norma/aturan tertentu. Misalnya mereka tidak suka menguliti kulit pohon sebagai tanda jejak. Dalam keadaan terdesak pun mereka masik berfikir untuk tidak merusak alam. Semula survival bertitik tolak pada banyaknya latihan dan pengalaman semata. Melengkapi diri dengan peralatan dan persediaan yang memadai sekarang menjadi salah satu tuntutan survival.
Banyak sebab orang melakukan usaha survival. Dalam keadaan survival ada pedoman yang dapat diingat yaitu S T O P, yang merupakan singkatan dari:
S = Stop/Seating, berhenti dan duduklah, jangan panik.
T = Thinking, gunakan akal dan tetap sadar kedaan yang dihadapi.
O = Observe, Amati keadaan sekitar, tentukan arah, manfaatkan alat yang ada, hindari hal-hal yang tidak perlu.
P = Planning, buat rencana dan fikirkan konsekuensinya bila sudah memutuskan.

D.   Langkah-langkah dalam Survival:
1.    Mengkordinasikan anggota, penting untuk menentukan langkah dan kekompakan.
2.    Melakukan pertolongan pertama pada yang sakit atau luka, jika tidak kelak akan merepotkan.
3.    Melihat kemampuan dan keadaan anggota (fisik dan mental)
4.    Mengadakan orientasi medan, untuk menentukan posisi sekarang secara tepat atau perkiraan.
5.    Mengadakan penjatahan makanan dengan memanfaatkan sumber alam yang tersedia.
6.    Membuat rencana kegiatan dan pembagian tugas yang rasional dengan pertimbangan yang matang.
7.    Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia luar, dengan tidak melakukan aktivitas yang berlebihan.
8.    Membuat jejak dan mencari perhatian agar mudah tim percari menemukan survivor.
9.    Berusaha mendapatkan pertolongan secepatnya baik sengaja ataupun tidak (kebetulan) bertemu dengan penduduk setempat.

E.   Hambatan Dalam Survival:
1.    Ketegangan dan panik, survivor hendaknya berfikir tenang dan optimis untuk mengurangi ketegangan. Cara untuk mengurangi ketegangan dan panik adalah dengan sering latihan survival, selalu berfikir positif dan optimis serta mempunyai persiapan dalam segala keadaan baik persiapan, mental, dan fisik.
2.    Rasa kesunyian, rasa putus asa, perasaat bahwa ia tersesat, rasa jemu terhadap lingkungan sehingga menyebabkan lemah mental.
3.    Karena sengatan sinar matahari dan panas, mengakibatkan gangguan yang membahayakan bahkan kematian. Gangguan itu antara lain kelelahan panas, kejang panas, dan sengatan panas.
4.    Karena serangan berbagai macam penyakit demam, disentri, tipus, malaria, diare, dll.
5.    Kemerosotan mental, bila kekuatan fisik telah tiada kemerosotan akan terjadi dengan indikasi badan lemah, lesu, kurang dapat kosentrasi, kadang kala ada yang menjerit histeris. Gejala ini dipengaruhi oleh kejiwaan dan kondisi fisik yang lemah, bias juga karena keadaan lingkungan yang mencekam.
6.    Bahaya dari semua jenis binatang yang mungkin ditemui.
7.    Keracunan, hal ini dimungkinkan dari makanan atau air, juga menelan zat kimia secara tidak sengaja. Gejala antara lain pusing dan muntah, rasa nyeri dan kejang-kejang perut, kadang mencret, kejang seluruh tubuh dan kalau berat pingsan. Tindakan yang harus segera dilakukan adalah mengeluarkan racun dari dalam lambung, yaitu harus muntah berapa kali.
8.    Keletihan yang amat sangat, karena survivor melakukan aktifitas melebihi kekuatan dan kondisi fisiknya, untuk itu perlu mengatur kegiatan sesuai sesuai dengan kamampuan dan perhitungan yang tepat supaya menghemat tenaga.
9.    Kelaparan, merupakan bahaya umum yang dihadapi survivor.
10. Luka dan lecet, gangguan yang sangat merepotkan dan akan bertambah besar dan perih bila di paksakan.
11. Kedinginan, dapat mengakibatkan kematian. Penurunan suhu tubuh sampai 3°C akan menyababkan kamatian dalam beberapa jam saja. Panas dapat hilang diantaranya bersama udara pernafasan, melalui pancaran panas, kontak langsung, adanya pergerakan panas dan penguapan. Terjadinya penurunan panas dimanai Hypothermia.

F.    Membuat Tempat Perlindungan (SHELTHER):
Tujuan membuat shelter adalah untuk melindungi diri dari pengaruh alam, seperti pengaruh panas, hujan, angin, dan dingin. Shelter bias dibuat dari bahan yang dibawa sendiri atau bahan yang tersedia oleh alam seperti daun, ranting pohon, batu, dll.
Syarat Membuat Shelter:
1.    Jangan membuat shelter di tempat yang mungkin banjir pada waktu hujan, seperti di bibir sungai walaupun tampak rata, bersih, dan kering.
2.    Tidak di bawah pohon atau cabang yang mati atau lapuk, jangan di bawah pohon kelapa. Usahakan jauh dari bahaya tertimpa pohon atau benda lainnya.
3.    Bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lain, juga bukan pada tanaman busuk karena tidak baik bagi kesehatan dan kurang aman.
Bahan pembuat shelter harus kuat dan pembuatannya mudah tidak memakan waktu yang lama. Untuk bahan yang dibawa ukuran yang lazim adalah 2x2 atau 2x3 meter.
Membuat shelter dari bahan alam untuk memanfaatkan dedaunan, ranting, ijuk, daun palm dsb. Yang penting bahan tersebut kuat untuk menahan hujan, panas atau angin. Bentuk shelter beraneka ragam, missal berbentuk kerucut, kubus dll.
Bentuk lain dari alam yang bias di manfaatkan adalah gua, lekukan tebing/batu yang cukup dalam, lubang dalam tanah dsb. Pastikan bahwa:
1.    Gua bukan rumah hewan apalagi binatang buas.
2.    Gua tidak mengandung gas beracun. Bisa dengan obor pengecekannya. Bila obor tetap manyala berarti di dalam gua tidak ada racun.
3.    Bahaya lain adalah tebing/gua bebas dari longsor.

G.   Mencari Air:
Air merupakan kebutuhan pokok manusia. Seseorang dalam keadaan normal dan sehat masih dapat bertahan hidup cukup lama sekitar 0–30 hari tanpa makan karena sel tubuh masih dapat memanfaatkan sumber lain untuk metabolism. Tapi, tanpa air orang akan sulit bertahan hidup lama. Tanpa air orang hanya dapat bertahan hidup sekitar 10 hari dan disekitar daerah tropis hanya bertahan hidup kurang dari itu. Minimum orang membutuhkan ¼ liter sehari. Dalam kedaan normal kebutuhan orang 2 liter sehari.
            Untuk daerah tropis, sekedar untuk mendapat air tidak terlalu sulit. Kita bisa mendapat sungai, parit, mata air, genangan air dalam cekungan batu dsb. Yang menjadi pertanyaan air itu dapat dimanfaatkan atau tidak.
            Betapapun hausnya kita, jangan minum air belum dijernihkan. Salah satu masalah dalam survival adalah penyakit yang disebabkan minum air kotor. Air yang akan kita minum harus bersih dan jernih, kemudian kita masak sampai mendidih untuk membebaskan dari segala macam kuman penyakit. Penyakit yang menimpa kita lewat air adalah dysentery, cholera dan thypus.
            Bila yang ad air yang berlumpur, seperti didalam jejak kaki gajah, air yang tenang dan diam dalam kolam-kolam kecil, air tersebut tidak mungkin jernih. Tindakan yang haris kita lakukan:
1.    Saring air tersebut dengan cara memakai sapu tangan bersih, pakaian yang bersih atau bambu yang diisi arang kayu serta sepotong kain yang bersih.
2.    Setelah bersih masaklah air itu dengan memasukkan arang kayu untuk menghilangkan bau dalam air.
Tempat-tempat yang mengandung air:
1.    Tanah berbatu
Carilah mata air. Pada umumnya daerah yang berbukit kapur mangandung air, sebab air hujan atau embun dengan cepat di serap oleh kapur itu. Air yang dihisap semua terkumpul dalam tanah yang berkapur. Buatlah lubang atau sumur yang tidak terlalu dalam, pada suatu saat kita akan menemukan air yang tersimpan.
2.    Tanah yang berpasir
Pada daerah tandus, air didapatkan dengan cara membuat sumur yang dalam. Air itu dapat diminum tetapi harus jernih dan bebas dari bakteri/kuman penyakit dengan tablet penjernih air atau dimasak terlebih dahulu. Di lembah pasir yang udaranya lembab atau daerah sekitar tumbuhan, bila digali dengan kedalaman tertentu akan keluar air. Pada tanah yang lembab, kita gali pasir dan pada lubang kita bentangkan ponco, biarkan semalaman akan didapatkan air dari hasil pengembunan yang meresap kedalam pasir.
3.    Tanah tepi pantai
Pasir pantai digali sekitar 3-5 meter pada jarak 100 meter dari laut, pasti ada airnya. Air tersebut tentu tidak enak, dapat kita hilangkan dengan saringan pasir. Jangan minum air laut, karena air laut mengandung garam dengan kadar tinggi yang dapat merusak ginjal.
4.    Tanah pegunungan
Carilah bekas sungai yang kering. Galilah lubang, biasanya dibawah kerikil atau batu besar dimana udara masih lembab terdapat air. Air tersebut haris disaring terlebih dahulu.
5.    Tanaman dan Tumbuh-tumbuhan yang mengandung air
Di Indonesia banyak tanaman, tumbuhan, akar-akaran, tali-tali hutan, rotan, dan buah-buahan yang mengandung air. Diantaranya:
a.    Tumbuhan yang banyak mengandung air, pohon bambu, pohon pepaya, pohon kapuk randu, pohon pisang, kaktus. Air dalam pohon-pohon tersebut tidak perlu dimasak, karena bebas dari bakteri dan kuman. Kusus pada bambu muda bagian bawah banyak mengandung air.
b.    Akar-akar pohon, tali-tali hutan dan rotan. Ada beberapa jenis akar pohon yang tergantung tinggi serta melingkar kebawah sebesar lengan orang dewasa. Akar ini di potong miring lalu airnya di tamping dalam botol. Airnya tidak keluar banyak tetapi menetes dengan cepat. Cara demikian juga berlaku untuk tali-tali hutan dan rotan.
c.    Pohon kapuk hutan atau randu alas, buatlah beberapa potong pada pohonnya, air yang mengalir segar dan mengandung obat anti demam.
d.    Buah-buahan yang banyak mengandung air, sebagai contoh buah kelapa, jeruk, jambu air, pisang dsb. Walau dalam hutan banyak sekali buah-buahan yang ada.
e.    Semua jenis palm hutan mengandung air yang dapat diminum. Seperti dari batang kembang aren, batang kembang kelapa, batang kembang nipah dsb.

H.   Mencari Makanan:
Sebenarnya dihutan-hutan dan rimba rawa di Indonesia terdapat banyak makanan. Tidak sedikit buah-buahan, daun-daunan, binatang liar dan ikan dihampir semua sungai yang mengalir dihutan dapat dimakan. Untuk menagkap binatang, kita harus mengetahui kebiasaan binatang itu dimana ia berada. Binatang-binatang itu antara lain punya kebiasaan minum dipinggir sungai pada pagi dan sore hari. Pada saat itulah kita usahakan untuk dapat menangkap binatang itu.
Beberapa bagian dari tumbuhan yang dapat dijadikan makanan antara lain:
1.    Batangnya: batang pohon pisang(musa paradisiaca, musa sp) bagian dalam yang berwarna putih(ares/bagal) dapat dimakan. Contoh lain beberapa jenis pakis batang ujung daunnya yang masih muda dapat dimakan, bambu muda, sagu, tebu, rumput jukut sirabu, jukut setan, jotang, dsb.
2.    Daunnya: misalnya selada air, antanan, daun melinjo, daun singkong, rasamala, bayam merah, bayam duri, dll.
3.    Akarnya atau umbinya: ubi jalar, singkong, beberapa jenis talas hutan, dsb.
4.    Buahnya: misalnya arbei, buah jambu, durian hutan, rambutan hutan, anggrung/ kuray, asam jawa, wuni, juwet, kedondong alas, aren, nanas, kokosan, cempedak, mundu, dsb.
5.    Tumbuhan yang dapat dimakan seluruh bagiannya, misalnya jamur merang, dan beberapa jenis jamur kayu.
6.    Makanan yang berasal dari hewan, misalnya telur penyu, telur burung atau memanfaatkan seluruh tubuh hewan tersebut. Hewan yang cukup mudah didapatkan seperti ular, ayam hutan, dsb.
Patokan umun makanan yang bisa dimakan:
1.    Hewan sekitarnya memakan tanaman tersebut. Umumnya yang dimakan kera dapat dimafaatkan manusia.
2.    Hindari dan berhati-hati tanaman yang berwarna mencolok, juga buah-buahan yang warnanya mencolok.
3.    Hindari tanaman yang mengeluarkan getah bewarna putih atau getah seperti sabun. Kecuali bila sudah yakin benar bahwa buah itu adalah sawo lejet(waluh siam), dsb.
4.    Tanaman dicoba dulu dengan mengoleskan pada tangan atau dicicipi sedikit. Tunggu beberapa menit kemudian, apabila terasa gatal dan menyengat, sebaiknya jangan dimakan.
5.    Hindari makanan yang rasanya tidak enak yang mungkin juga terasa pahit atau asam.
6.    Untuk tanaman beracun, maka kita harus berhati-hati terhadap biji-bijian yang berwarna merah atau merah tua. Hanya tanaman yang dapat dipastikan dan sudah dikenal benar yang dapat dimakan.

I.      Membuat Api:
1.    Batu api digosok dengan plat baja dengan diberi bahan yang mudah terbakar karena percikan api.
2.    Belahan bambu yang sibuat tipis sebelah, kemudian ditancapkan kedalam tanah, belahan bambu yang satunya lagi dengan arah yang berlawanan, diberi lubang dan dibelakang lubang diberi bahan yang mudah terbakar percikan api. Digosokkan pada belahan bambu yang terpancang pada tanah yang keras dan terus menerus. Karena panasnya gosokan maka rumput kering itu akan terbakar
3.    Dengan menggunakan kaca pembesar/ lup dihadapkan kearah sinar matahari, sinar yang dipancarkan lup itu diletakkan pada rumput kering, lama kelamaan akan terbakar.
4.    Gergaji api(fire saw), mengusahakan dan memanfaatkan efek panas akibat tarikan kayu. Cara yang dilakukan adalah menarik batang kayu diatas kayu lainnya. Cara ini biasa menggunakan kayu atau sebilah bambu atau kayu yang jenisnya lain tetapi empuk. Setelah sepotong kayu terpasang pada kayu lainnya, maka gerakan kayu seperti menggergaji.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar