Sabtu, 27 Oktober 2012

Resensi: Pertempuran Dua Dunia

Judul Buku               : Enthirea: Pertempuran Dua Dunia
Penulis                     : Aulya Elyasa
Penerbit                    : Copernican Kelompok Jagad Media, Yogyakarta
Cetakan                    : 1, Mei 2008
Tebal Buku               : x + 290 halaman; 13 x 20,5 cm
Penyunting               : Faiz Ahsoul
Desain Grafis           : Catur Ary
Penata Aksara         : Agnes Chintami
Penyelaras               : Alfoe Niam Alwie

            Enthirea: Pertempuran Dua Dunia merupakan sebuah buku fiksi fantasi yang ditulis oleh Aulya Elyasa. Enthirea merupakan dunia dimana keajaiban adalah kenyataan. Dunia dimana sihir berkuasa dan impian menjadi nyata. Tempat tinggal manusia dan segala keajaiban sihir.
Elyaz, demikian sang tokoh utama. Seorang pemuda miskin dari kota Faerun yang bekerja sebagai penebang kayu. Pada awal berpetualang, usianya tak lebih dari 24 tahun. Ia tinggal bersama pamannya Harvath yang buta. Ayahnya telah meninggal dalam pertempuran Harla, dan ibunya meninggal saat usianya beranjak 10 tahun. Perjalanan hidupnya ditakdirkan oleh Vauri, raja dari para dewa sebagai pelindung.
Awal cerita, dahulu kala terjadi peperangan besar di Enthirea ketika Orgath salah satu putra Vauri, Raja para Dewa, mencoba membunuh ayahnya dengan menghancurkan semua ciptaan dewa di Enthirea. Untuk melawan Orgath, Vauri memberikan medali yang menyimpan kekuatan dewa kepada orang yang terpilih sebagai pelindung Enthirea. Orgath berhasil dijatuhkan dan dipenjarakan. Kedamaian pun datang ke Enthirea, tetapi para pelindung dan medalinya seketika juga ikut menghilang.
Seribu tahun setelahnya, Elyaz seorang pemuda penebang kayu miskin yang tinggal di kota Faerun di tepi hutan Ereantera datang ke sebuah kota Elf yang berada jauh didalam hutan, bernama Eslunia. Di sana ia bertemu Elf pria bernama Lefial dan Elf wanita bernama Arvea, yang merupakan putri dari Isfar, pemimpin Elf Eslunia. Di sana ia mengetahui kenyataan tentang perang besar masa lampau dan fakta mengejutkan bahwa medali yang diwarisikan dari ayahnya adalah salah satu medali sang pelindung, medali Gretiani. Elyaz pun mengetahui takdirnya sebagai pelindung bangsa Enthirea.
Sebagai pelindung, Elyaz dilatih cara bertarung dan ilmu sihir oleh Lefial, Elf yang pertama kali ia temui saat sampai di Eslunia. Dan ternyata Lefial adalah Jendral perang Eslunia. Awalnya hubungan mereka tidak baik, tetapi seiring waktu mereka menjadi sahabat. Elyaz juga menaruh hati Arvea, yang selalu bersikap baik dan perhatian padanya. Sampai tiba hari dimana Isfar meminta Elyaz, Arvea, dan Lefial membantu kota Faerun yang menjadi tujuan pertama kota yang akan dihancurkan pasukan kegelapan Orgath. Sayangnya Faerun hancur oleh kekuatan pasukan Orgath, dan demi menyelamatkan Arvea dan Elyaz, Lefial rela mengorbankan nyawanya.
Setelah kembali ke Eslunia, membuat strategi dengan semua bangsa di Enthirea, Elyaz bersiap menghadapi pasukan kegelapan. Takdir mempertemukannya dengan 3 pelindung lainnya, yaitu Zatra, Elf hitam yang juga ditunjuk oleh Vauri sebagai pelindung. Penyihir Druid yang tersisa, Asynia merupakan pelindung dari wilayah selatan. Dan pemuda bernama Alator, sang pelindung yang bisa mengubah dirinya menjadi binatang buas. Tetapi Elyaz masih tidak yakin sebab seharusnya ada delapan pelindung, tetapi hanya ada empat pelindung. Namun dengan keyakinan yang sangat besar, mereka yakin bisa mengalahkan pasukan kegelapan dengan bantuan bangsa Enthirea.
Demikian Aulya Elyasa menggambarkan berbagai macam watak dan penokohan dalam cerita ini. Ia menggambarkan tokoh Elyaz sebagai pemuda yang baik, berjiwa kesatria, dan pemberani. Isfar sebagai pemimpin kota Eslunia adalah seorang yang bijaksana. Arvea adalah putri dari Isfar yang sangat cantik dan baik hati. Zatra, seorang pemuda dari Svaltaria yang juga merupakan seorang pelindung. Asynia, merupakan keturunan Druid yang tersisa, ia juga seorang pelindung. Alator, merupakan pelindung yang bisa mengubah diri menjadi binatang buas. Mereka semua mewakili sisi baik dunia, dan sebaliknya ada Orgath, pemimpin dari Elf Hitam yang sangat jahat dan ingin sekali menguasai Enthirea. Sementara para tokoh lainnya dengan berbagai karakter melengkapi sisi baik dan sisi buruk dunia.
Sebagai buku fiksi fantasi, buku ini memang cukup tebal. Namun membaca halaman demi halaman, bab demi bab, membuat kita tidak akan rela meninggalkannya hingga tamat, bahkan demi menanti kelanjutan buku seri yang ke dua. Sebab, tiap bab menyajikan kejutan dan ketegangan yang berbeda-beda. Pada bagian awal buku, terdapat gambar-gambar dari setiap tokoh yang ada dalam cerita. Dan buku ini seolah-olah bisa membuat kita merasa ada didalam cerita. Banyak plot/alur yang sederhana tetapi sangat menarik untuk tidak dilewatkan, karakternya juga sangat bagus. Tentang petualangan, perjuangan, pengorbanan, dan percintaan semua dimuat  sangat menarik sehingga membuat penasaran si pembaca.
Kelemahan dari buku ini adalah penceritaan dari setiap kejadian yang sangat cepat dan dialog yang kurang menggambarkan karakter dari si tokoh.

2 komentar: